Dunia Ning Arum

Enjoy how my life and the lives of others

  • Home
  • About Me
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Mungkin semesta sedang menertawakanku sekarang. Mungkin saja mereka juga bingung denganku. Mereka bingung apa yang sedang aku lakukan sekarang, atau mereka menertawakanku karena aku ini aneh, aneh sekali. Mana mungkin ada manusia yang berharap mengulang waktu hanya pada satu titik. Kamu tau waktu apa itu? Itu adalah waktu dimana kamu berbicara padaku. Saat dulu, aku duduk di kursi, kamu duduk di atas meja sambil bercerita, aku hanya seorang pendengar yang didalam hati selalu berkata, “Ciptaanmu begitu indah, Tuhan.”

Oh, ya, ada juga momen-momen yang aku rindukan saat bersamamu, yaitu saat kamu berkata, “Dia itu saudara gue.” Kalau diingat, lucu sekali ekspresimu saat itu. Kamu selalu marah ketika mereka tidak percaya bahwa aku saudaramu, mereka selalu bertanya padaku tentang kebenaran itu, dan aku hanya bisa menjawab, “Nggak tau.” Lalu, setelah kamu dengan jawabanku, kamu pasti marah dan bilang, “Serius, tanya aja sama bokap lo.”

Ah, andai aku bisa mengulang momen-momen itu, yang akan aku ubah adalah,

1.       Aku akan percaya bahwa kamu saudaraku
2.       Aku akan selalu mau membantumu
3.       Ketika kamu ingin berkomunikasi denganku, aku akan selalu menjawab
4.       Aku tidak akan membiarkan hatiku jatuh cinta padamu.

Dan, keinginan nomor empat yang paling ingin aku ubah. Ketika aku sadar bahwa aku mencintaimu, saat itu pula aku selalu ingin memutar waktu. Aku ingin kembali ke masa di mana sosokmu adalah hal biasa bagiku. Kehadiranmu bukanlah yang kutunggu, karena kita akan selalu bertemu. Namun, sayang sekali, kita hidup hanya sekali, tidak bisa membuat waktu agar kembali. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah waktu di mana aku bisa melihatmu, aku bisa melihat bahwa kamu sedang baik-baik saja.

Apa kamu sekarang sedang jatuh cinta? Atau sebenarnya di dalam hatimu masih ada sosok dia? Sekarang, yang aku inginkan adalah kamu cerita tentang seseorang yang sedang mengisi hatimu, seseorang yang selalu memenuhi pikiranmu. Dulu, kamu tiba-tiba mengunggah fotomu bersama dia-mantanmu- saat itu aku pikir kalian menjalin kasih kembali, itu sebabnya aku bertanya, “Balikan?” Tak butuh waktu lama untuk mendapat balasan pesan darimu. “Enggak,” katamu. Syukur, batinku saat itu. Lalu aku kembali bertanya, “Terus ngapain buat status sama mantan?” Kamu menjawab, “Gue dikejar-kejar cabe-cabean.” Ingin tertawa ketika membaca itu. “Jadi dipost biar nggak diganggu cabe-cabean?” balasku. “Enggak juga, sih,” jawabmu.

Aku tidak bisa lagi menulis semua tentangmu. Terlalu banyak hal yang begitu membekas di hatiku. Kehadiranmu selalu saja aku tunggu, entah mengapa. Jika waktu benar-benar bisa terulang, aku tidak akan membiarkan momen-momen yang seharusnya indah malah aku hancurkan karena ego, aku akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin. Sekarang aku menyesal, mengapa aku dulu seperti itu kepadamu? Mengapa aku selalu mementingkan egoku. Aku membenci ini, sangat benci, karena ketika aku ingat hal-hal yang dulu, penyesalan selalu memburu.

Sekarang, setiap aku berpapasan denganmu, aku selalu ingin menyapamu, aku ingin berbincang denganmu, tapi aku nggak bisa. Karena akan terasa aneh jika tiba-tiba aku menyapamu. Sudahlah, biarkan saja rasa ini menghilang, aku akan merelakan.


Jatuh Cinta

Aku memiliki mimpi menjadi seorang penulis. Mimpi itu muncul ketika aku kelas dua smp, ketika masalah sedang mendatangi hari-hariku, ketika aku tak tau harus percaya kepada siapa. Aku sudah menulis dari kelas lima SD, tapi berhenti karena pikiranku masih tak mampu untuk menuliskan hal-hal yang banyak. Lalu, berlanjut ketika aku kelas satu SMP, ketika itu aku menulis di blog ini-pengalaman pertama kali masuk smp, study tour. Aku lebih sering membuat puisi dan menulis buku harian kala itu, aku jatuh cinta. Iya, aku menyukai seseorang, tapi aku tidak bisa berkata, aku hanya bisa memendam.

Jika aku tak pernah jatuh cinta, mungkin aku tak akan pernah menulis cerita-cerita wattpad itu. Aku menyukainya, karena tidak mungkin aku mengungkapkan padanya, aku memilih menuliskan dia di kertas-kertas buku harian. Aku sembunyikan dia dibalik nama yang bukan dia, aku membuat segalanya seperti dia hanya temanku, aku tidak punya perasaan untuknya. Tentu itu cukup sulit bagiku, tapi semua berhasil, tiga tahun itu terpendam tanpa ada satu orangpun yang tau. Hingga akhirnya sekarang semua terbongkar, sahabatku yang dulu juga mencintai dia, sudah tau. Hampir seluruh temanku tau, hanya dia yang tidak tau.

Pengecut memang, aku hanya berani menuliskan dia di dalam tokoh-tokoh yang tak nyata, aku hanya berani mengakui perasaanku pada puisi, dan cerita yang tak nyata. Jalan ini memang buntu, karena dia tak akan tau, tapi jalan lebih baik daripada aku harus mengungkapkan dan akhirnya kehilangan. Ketika aku merasa senang dengan kehadirannya, aku selalu menulis puisi atau membuat cerita baru tentang dia, itu yang aku lakukan agar semua kenangan dan kejadian memiliki memori, arti, dan kegunaan sendiri. Aku tak ingin membuang kenangan itu dengan sia-sia, jika bisa dijadikan sebuah karya, kenapa harus dibuang?

Aku selalu membayangkan, ketika suatu saat nanti dia tau bahwa karakternya ada di dalam tokoh-tokoh cerita yang aku tulis, dia akan tersenyum. Tapi itu hanya sebuah bayanganku, aku tidak tau apa yang benar-benar terjadi.

Oh iya, dia itu temanku. Aku setiap hari bertemu dengannya, berbicara, bergurau, atau apapun itu dengannya. Kejadian-kejadian sejak empat tahun yang lalu selalu aku kenang, jika saja waktu bisa diputar, aku ingin memutarnya, dan mengulangi momen-momen bahagia itu terus-menerus hingga bosan. Aku merindukan momen itu, karena sekarang momen itu tak pernah terjadi. Bahkan, untuk bertemu dengannya saja aku harus mencari-cari kesempatan.

Sekarang, aku satu sekolah dengannya. Dari kelas satu SMA, aku selalu mencari cara agar bisa melihat dia, seperti waktu upacara, ketika ke kamar mandi, atau saat pulang sekolah. Sulit sekali untuk melihat wajahnya, dan terkadang aku juga merindukan suaranya. Tak ada yang bisa aku lakukan ketika merindukannya selain menulis, selain mendoakannya, selain menjadikannya puisi-puisi malamku.

Semoga saja, dia membaca semua tulisanku. Aku ingin dia tau tentang perasaanku suatu saat nanti, aku ingin dia tau bahwa senyumnya bisa membuahkan sebuah karya.  Aku ingin dia tau, bahwa jatuh cinta kepadanya bukanlah hal buruk, walau cinta ini tak terbalas. Nyatanya, karena cinta itu aku mampu menulis puluhan puisi, merangkai puluhan kata.


-Alicia, untuk dia.

Aku dan Kamu adalah dua orang asing tapi saling mengenal. Aku sekarang hanya berharap kamu datang ke acara ulang tahunku, hanya datang, itu sudah cukup menjadi kado terindah bagiku. Saat ini aku hanya tinggal menunggu jawabanmu di grup tentang acara ini. Ah, kamu terlalu lama mengetik membuat perasaanku tak tenang, aku hanya takut jawabanmu tak sesuai keinginanku. Ternyata, kamu menjawab “oke” jawaban yang aku inginkan.

 Kamu datang, menggunakan kemeja-yang pernah kamu pakai saat ke rumahku dulu, yang dibalut dengan jaket jeans, helm berwarna merah hati, dan motor scoopy barumu itu. Lega rasanya, dan begitu senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu, walau setiap hari kita bertemu. Ini cukup, sangat cukup. Kamu tau, aku tak pernah merasa jatuh hati yang benar-benar tulus sebelum ini, dan sekarang aku merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang di TV itu. Perasaan bahagia beserta gugup yang tak karuan. Kamu bertanya sandi WI-FI dan ku jawab dengan biasa saja, itu bohong, sejujurnya aku gugup, aku tak kuasa saat kamu menatapku. Setelah berbulan-bulan aku tak pernah bisa mendengar suaramu yang sedang berbicara padaku. Aku juga bahagia, ternyata kamu masih ingat dengan jalan rumahku, yang mungkin hampir satu tahun tak pernah kau kunjungi lagi. Aku tak berharap lebih dari ini, karena dengan melihatmu ada di rumahku saja sudah membuatku bahagia. Sangat bahagia.

Tanpa kamu sadari, aku selalu memperhatikanmu, dari jauh, kamu tidak akan mengetahui itu. Mengagumimu dari jauh seperti biasanya itu bisa membuatku semangat berangkat sekolah. Hahaha, mungkin jika kamu membaca ini dan tau siapa aku. Kamu akan semakin menghilang dari hidupku, jika saat ini saja kamu hampir menghilang, apalagi saat kamu tau. Hari ini kamu menganggapku ada, dan besok, aku kembali hilang di matamu. Terkadang aku merasa bahwa aku manusia bodoh karna cinta. Aku diam, saat aku tau kamu hanya memanfaatkan aku. Aku tak marah, karena aku memang tak bisa marah. Ah, bagaimana yah caranya menjelaskan bagaimana perasaanku saat mengingat yang dulu. Bisa dikatakan sakit, tapi sakit itu tidak bisa membuatku menangis.

Kamu tau, senyum yang ada di wajahmu itu yang bisa menghilangkan rasa lelahku saat mencintaimu dalam diam. Kamu tadi tersenyum, dan terlihat begitu tampan. Kali ini aku kembali berharap, aku berharap kamu menganggapku ada, besok dan seterusnya. Jika ada hal yang bisa membuatku terlihat olehmu, aku akan melakukan itu. Iya, aku akan nekat. Jangan tanya kenapa, karena jawabannya sudah jelas lelah. Tadi saja rasanya aku ingin menangis, ingin marah, saat kamu yah, kamu, yang selalu tak menganggapku ada. Ah, iya, satu yang sudah berubah dari kebiasaanmu. Jika dulu kamu adalah orang yang suka berfoto, sekarang tidak, tadi kamu bilang “Gue nggak suka foto” bukan apa-apa sih, hanya saja aku ingin tau alasannya. Aku ingin tau segalanya tentang kamu, apapun itu, aku ingin. Dan satu lagi, aku merasa bahwa kita ini sedang menjalankan LDR loh, tapi LDR yang lebih menyakitkan. Tadi aku baca kutipan di Instagram yang bertuliskan

LDR paling jauh adalah saat dua orang saling mengenal berpapasan, namun tak saling menyapa

 Bukankah itu yang sedang kita alami? Tiga tahun kita satu kelas, setiap hari bertemu, dan sekarang? Untuk menyapa pun tak mampu. Aku tau, saat kamu bertemu denganku kamu tau aku ada, tapi kenapa kamu enggan untuk menyapa? Ah, ini membuatku kesal. Padahal harapanku adalah kita masih sama seperti dulu, saling tersenyum saat bertemu, kamu yang selalu bertanya sesuatu padaku. Aku ingin semua kembali seperti dulu. Kumohon, sekali saja, anggap aku ada, walau hanya sekedar teman bahkan sekedar saudara. Aku ingin.

Jika dulu setiap hari kamu pasti menghubungiku hanya untuk menanyakan tugas, setiap hari kamu berbicara kepadaku bercerita tentang mantanmu atau tentang gebertan barumu. Aku ingin mendengar kalimat-kalimat itu lagi dari mulutmu, kalimat yang sebenarnya menyakitkan tapi menjadi begitu membahagiakan saat kamu yang bercerita dengan ekspresi wajahmu yang selalu membuatku ingin tertawa. Lagi-lagi semua kenangan itu tak pernah bisa kulupakan, dan aku selalu ingin kenangan itu terulang. Aku hanya ingin bertemu denganmu lalu berbicara seperti dulu.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Hai, perkenalkan saya Wahyuning Arum. silakan e-mail ke wahyuarum0311@gmail.com untuk kerja sama

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

Categories

  • Cerita Kita 15
  • Cerpen 1
  • Lifestyle 2
  • Ratu 11
  • Rekomendasi 5
  • Review 6

Cari Blog Ini

Intellifluence Trusted Blogger

Arsip Blog

  • ►  2025 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2023 (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2022 (6)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2021 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (4)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (6)
  • ▼  2019 (10)
    • ►  Desember (2)
    • ▼  September (3)
      • Aku Ingin Memutar Waktu
      • Jatuh Cinta
      • Inginku
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2016 (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
Diberdayakan oleh Blogger.
  • Beranda

Popular Posts

  • Sarana bagi Para Penyandang Disabilitas dalam Pemilu 2024
  • Ratu | Bagian 1 | Pertemanan
  • Cerpen Anak-Anak: Kucing Nona Ami
  • Ratu | Bagian 2 | Risma

Labels

  • Lifestyle 2

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template