Dunia Ning Arum

Enjoy how my life and the lives of others

  • Home
  • About Me
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

 Ada kegelisahan di wajah mereka

            Tak jarang aku melihat mata orang-orang yang menatap gelisah pada satu hal. Tak jarang pula aku melihat bagaimana mereka mengeratkan kedua tangannya dan berharap akan ada sesuatu yang baik datang ke kehidupan mereka. Semua orang memiliki ketakutan, bahkan anak kecil pun bisa takut ditinggal ibunya ke pasar.

            Pagi itu, saat aku masih kelas dua belas, aku sering sekali melihat kegelisahan di mata teman-temanku. Ada yang diam saja, ada yang mengeluh, ada yang kebingungan, dan segala macam bentuk pelampiasan dari kegelisahan yang mereka rasakan. Ketakutan mereka jelas tentang masa depan, tentang kemana harus berjalan, juga tentang keinginan yang kemungkinan tak bisa terkabulkan. Banyak sekali yang tergambar di wajah mereka, mata mereka selalu jujur tentang apa yang sebenarnya dirasakan oleh sang pemilik.

            Tak ada yang tau tentang masa depan, itu kenyataan yang harus diterima. Semua orang mengambil jalan, memilih jalan, memilih arah, tanpa kepastian apa mereka akan sampai di tujuan yang mereka inginkan atau justru sampai di tempat lain yang tidak pernah terbayang dalam pikiran. Banyak yang justru takut memilih karena takut dengan hasil pilihannya sendiri. Kadang mereka memilih untuk ‘mengikuti’ pilihan orang lain, mungkin sekedar agar jika gagal, gagalnya tidak sendiri. Sejujurnya, kegagalan lebih terasa meyakitkan ketika gagal sendiri dan melihat orang-orang yang berjuang bersama kita berhasil.

            Saya tentu juga merasakan kegelisahan saat memilih jalan mana yang akan saya pilih, tak jarang juga saya kecewa dengan apa yang pilih. Jika sudah seperti ini sangat mungkin bukan untuk menyalahkan diri sendiri? Kenapa memilih ini? Seandainya aja dulu. Dan semua kalimat-kalimat tanya tentang penyesalan yang tidak ada habisnya terulang setiap malam.

            Kenyataan bahwa masa depan merupakan sebuah kejutan justru jadi hal yang paling ditakuti oleh setiap insan. Saat masih sekolah dulu, saya sebagai orang yang selalu jadi pendengar sering sekali mendengar perihal ketakutan dan kegelisahan orang-orang terhadap suatu hal. Ada bagi saya sederhana, ada juga yang bagi saya memang patut ditakuti. Seperti takut dengan pelajaran matematika bagi saya merupakan kegelisahan yang sederhana, tetapi bagi teman saya itu kegelisahan yang benar-benar menakutkan. Atau takut dengan peringkat kelas, itu kegelisahan yang memang membuat banyak orang gelisah.

            Kegelisahan saya yang paling parah tahun ini tentu perihal apakah saya bisa kuliah. Sekali lagi, saya mengambil jalan dengan keberanian dan harapan, lalu jalan itu salah tentu kegagalan yang saya dapatkan, kekecewaan terhadap diri sendiri yang mendalam. Saat itu saya gagal masuk universitas dan jurusan yang saya inginkan. Sekarang? Saya kuliah, di universitas yang tidak begitu saya inginkan tetapi masih masuk dalam universitas yang saya minati, dan jurusan yang selalu jadi nomor dua di hidup saya.

            Kekecewaan tentu masih mengelilingi saya setiap saya sadar bahwa saya tidak bisa menjadi seseorang yang saya inginkan. Tidak ada impian-impian yang sudah saya susun rapi itu, tidak ada bayangan-bayangan tentang profesi yang paling saya dambakan itu. Sekarang, selalu ada rasa sakit atau perasaan kosong setiap nama universitas atau nama jurusan itu terdengar atau terbaca oleh saya.

            Kegelisahan itu ada. Ketakutan itu ada. Kekecewaan itu ada. Dan akan selalu ada. Saya tidak bisa menyangkal perasaan itu, tugas saya sekarang adalah menerima. Menerima bahwa Tuhan memberikan saya jalan lain, memberikan sesuatu yang dulu saya abaikan. Menerima. Mengikhlaskan. Merelakan. Menerima. Bukankah itu yang menjadi tugas manusia setelah memilih pilihan yang tidak pasti adanya?

 Jogja Bersama Kenangannya

            2018 saya pergi ke Yogyakarta untuk pertama kalinya. Kala itu saya pergi ke kota istimewa untuk rekreasi kelulusan walupun saat itu belum tau akan lulus atau tidak. Saya masih berada di akhir tahun sekolah menengah pertama. Ada banyak sekali kenangan yang saya dapat di akhir-akhir perpisahan itu.

            Saya lupa tepatnya tanggal berapa kami berangkat, yang jelas itu di sekitar bulan Desember. Seperti tahun-tahun sebelumnya, semua berkumpul di depan Rumah Sakit Sido Waras yang berada di tepi jalan raya. Aku dengan bawaan sedikit dan berniat utnuk membeli makanan lain di Indomaret gagal, karena ternyata saat itu pihak rumah sakit melarang busnya berhenti di depan rumah sakit. Akhirnya saya berangkat dengan tangan kosong, hanya ada uang dan pakaian di tas saya.

            Saya duduk Bersama sahabat saya Asta. Belakang saya ada Listya dan Lia. Dan tempat duduk yang lain saya lupa. Asta berada di samping jendela dan saya di samping jalan. Perjalanan awal sangat baik, luar biasa baik. Sekitar pukul satu dini hari, bus berhenti di pom bensi, saat itu banyak sekali yang sudah merasa mabuk sehingga kami menyebrang jalan untuk membeli the hangat di warung.

            


            Perjalanan Mojokerto ke Yogyakarta melewati jalanan yang penuh dengan pohon, melewati alas-alas dengan jalan yang berliku-liku. Ditambah di tengah perjalanan tiba-tiba bus berhenti, rumornya ada murid yang kebelet buang air besar, katanya juga dia sudah buang air besar di celana. Untuk kebenarannya saya masih tidak tau.

            Karena jalanan yang dilewati itu beliku-liku, saya dan Asta berpura-pura sedang berada di arena balap. Berbeda dengan Lia yang sudah sholawatan karena ketakutan. Teman saya Deni melihat Lia selalu berkata, “Udah hubungin Orangtuamu biar nyiapin semuanya. Biar kalua diumumin di masjid semua udah siap.” Ah iya, Deni tidak dapat tempat duduk karena salah satu teman saya (entah siapa, saya luap) tidur dengan terlentang, sehingga jatah duduk Deni dipakai sama dia.

            Banyak sekali yang saya rasakan diperjalanan itu. Salah satunya adalah ada rasa sedikit kesal saat saya terbangun dan melihat someone tidur di samping sahabat saya. Yah, sudahlah. Maaf-maaf.

            Kami sampai di Goa Pindul yang terletak di Gunung Kidul pada pukul lima dini hari. Jadi sesampainya di sana, langit masih sedikit petang. Tapi langit sudah cerah saat kami sudah berganti pakaian untuk siap-siap masuk ke dalam air. Saya membeli tampat ponsel agar tidak terkena air. Ada beberapa teman saya yang tidak tau kalua kita akan main air yang jelas basah-basahan. Akhitnya tiga teman saya yang tidak tau ini membeli satu kaos dan satu celana untuk digunakan masuk ke air. Mereka terlihat seperti kembar tiga.

            Tidak mungkin saya tidak takut terkait harus duduk di atas pelampung dan saling menggeret. Saya takut saya jatuh, saya juga takut tangan saya terlepas dari pelampung teman saya. Tapi pemandangan di goa itu tidak mengecewakan, cahaya yang muncul dari lobang itu sangat indah. Terlewat indah. Ciptaan Tuhan memang selalu indah bukan?

            Kejadian setelahnya adalah sandal Lia yang menghilang. Lalu salah satu guru saya terpeleset. Dan si kembar tiga itu terlihat aneh dan malu-malu membuat saya tertawa.

            Setelah dari goa kami sarapan, makanannya tidak enak, saya tidak suka. Saya bahkan tidak inga tapa saja yang kami lakukan kala itu. Kami sempat berfoto. Bukan kami, mereka lebih tepatnya. Saya tidak terlihat di foto itu, sekalinya terlihat malah blur. Nasib-nasib.

            Setelah dari goa kami pergi ke pantai kukup. Saya lupa tentang apa saya yang saya lakukan di pantai ini selain berfoto. Yah, kami menyewa tempat untuk berfoto. Membayar dua ribu jika tidak salah di setiap spot foto. Lalu jika ingin difotokan dan dicetak, membayar…… Ada satu hal yang saya sesali hingga sekarang adalah saya tidak berfoto dengan someone padahal itu sudah menawari.





            Yah, kami hanya berfoto-foto saja. Setelahnya kami Kembali ke bus dan menyadari bahwa salah satu teman saya ketiduran dan tidak ada yang membangunkan dia. Sehingga di foto Bersama sekelas dia tidak ada.

            Sepulang dari pantai, sekitar pukul lima sore lebih, kami berhenti di Malioboro. Tidak mungkin ke Jogja tetapi tidak ke Malioboro bukan? Kami makan malam di sana, tetapi sebelum itu kami diberi izin untuk jalan-jalan walau hanya satu jam. Sebelum meninggalkan bus, salah satu temanku yang Bernama Ma’ruf bilang kalau nanti waktunya pulang dia akan menelfonku dan menyuruhku memastikan data ponsel menyala.

            Aku pergi Bersama Asta, Listya, dan Lia. Kami hanya berkeliling, dan bodohnya kami justru berhenti di Indomaret dan membeli apapun yang ada di Indomaret. Yah, sudah sampai Malioboro malah membeli di Indomaret yang bahkan di mana-mana ada.

            Saat itu kami telat, dan aku lupa menyalakan data ponselku. Semua bus tidak berjalan karena aku, Asta, Listya, dan Lia yang tidak kunjung kembali.

       Itu perjalanan paling indah di hidup saya hingga sekarang. Saya tidak pernah merasakan ketenangan dan kebahagian sebegitu besarnya. Hingga sekarang, setiap saya mengingat momen itu, ada sesuatu yang membuat saya sesak. Mungkin kerinduan. Perjalanan ini benar menjadi perjalanan paling indah dalam hidup saya, kenangan paling luar biasa yang pernah saya punya.

 

 Tentang Sepi dan Kosong yang Menjadi Momok di Sepanjang Hari



Ini tentang sepi dan kosong dalam hidup yang sering menakutiku di setiap aku membuka mata dan hendak menutup mata. Tentang bagaimana kosongnya hidupku di antara teman-temanku yang tertawa bebas dan terlihat sangat berwarna.

Mungkin sepi sudah tak asing lagi bagi manusia, terlebih ketika mereka mulai beranjak dari remaja menuju dewasa. Lalu kesepian, banyak orang yang selalu merasakannya, bukan sepi tapi kesepian. Berdiri di antara ribuan orang, tapi hanya kosong yang dirasa, mungkin itu kesepian. Banyak orang yang merasakan kesepian tapi tak pernah menyadarinya, berpikir bahwa itu hanya hal biasa. Ada beberapa hal yang mulai kusadari di usia enam belas tahun ini, tentang kesepian, sepi, kehilangan, kekecewaan, dan berbagai perasaan menyakitkan yang semakin mendewasakan.

Dulu, ketika aku masih ada di sekolah dasar, kupikir memiliki banyak teman adalah hal yang membahagiakan, walau untuk mendapat banyak teman aku harus merasakan banyak penderitaan. Lalu, hingga akhirnya kelas dua sekolah menengah pertama aku tau bahwa masa kecilku begitu kesepian. Entah bagaimana aku bisa berpikir seperti itu, tapi jika memang dipikir ulang, setiap masalah mendatangiku, menggerogoti hari-hari bahagiaku, tak ada satu orang pun yang menggenggam tanganku atau sekedar menghiburku. 

Memang aku tak banyak tau tentang bagaimana kehidupan berjalan, bagaimana manusia-manusia ‘dewasa’ itu menjalani hari-hari dengan sendiri. Kadang menyakitkan jika harus mengingat bagaimana kesepiannya hidupku.

Dulu, aku hampir menyerah karena hidup rasanya terlalu kosong. Tak ada yang mengharapkanku ada. Tak ada yang mau membuatku bahagia. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah memaksa orang lain untuk membahagiakanku, dan memaksa orang lain untuk tetap berada di sampingku. Hingga akhirnya beberapa bulan lalu aku sadar, bahwa kesalahan-kesalahan, kesedihan, bahkan penderitaan yang mengganggu hidupku disebabkan oleh diriku sendiri. Terlalu memaksa, menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Berpikir bahwa jika mereka tak mendekat kepadaku berarti mereka tak suka padaku, padahal jika aku mau dekat dengan mereka, mereka bisa menerimanya. Sederhana saja, bukan menunggu orang untuk mendekati kita, seharusnya kita yang mendekati mereka.

Terdengar aneh dan tidak memungkinkan jika aku bilang hidupku sudah cukup, lebih dari cukup. Tapi, sesekali aku berpikir bahwa hidupku paling menyedihkan. Bertahun-tahun hanya berpikir untuk mengakhiri hidup tapi terlalu takut untuk melakukannya. Ingin mati tapi masih ingin hidup. Sepertinya memang benar orang kesepian lebih membahayakan dari orang merokok. Aku menyadari itu. Tapi rasa kesepian membuatku lebih maju dari orang lain, rasa sepi yang kutemui setiap hari di manapun dan kapanpun itu mampu membuatku mengenal diriku, seperti tau bahwa aku harus menangis. Yah, jujur.

Kupikir lagi, dulu aku bisa melalukan apapun ketika sendiri. Dari hal yang menguntungkanku hingga hal yang merugikanku. Lucu ketika kuingat bagaimana hari-hariku dulu. Aku duduk di antara teman-temanku, tertawa, memperhatikan tawa renyah mereka, tapi entah mengapa aku tak bisa merasakan bahagia. Kosong sekali. Seperti tawa yang muncul pada wajahku hanya sebuah kaca yang memantulkan apapun yang ada di depanku. Lalu ketika aku benar-benar sendiri, aku masih merasa kosong, atau aku menangis hingga mampu melukai diriku sendiri. Oke, aku tau ini sudah parah, aku tau bahwa perilakuku sudah di luar nalar manusia waras.

Aku sering takut kesepian benar-benar menghilangkanku dari ingatan manusia-manusia yang kusayangi. Aku takut karena perasaan kosong dan sepi ini membuatku kehilangan segalanya yang berharga bagiku. Sering aku menangisi mengapa hidup sekosong ini, hingga Ketika terlalu kosong aku tidak memiliki harapan apapun untuk tetap ada di dunia ini.

Tetapi, kesepian mengajarkanku banyak hal. Kesepian perlahan mendewasakan. Aku bahagia karena aku pernah kesepian, perasaan yang sudah, sedang, atau akan dirasakan banyak orang.

 Alasan mengapa saya suka menulis

            


Alasan mengapa saya suka menulis

Untuk apa saya menulis?

Saya mulai menulis saat kelas lima sekolah dasar, saat itu Kakak menyuruh saya untuk menulis di blog. Tentu, Kakak sudah membuatkan blog, ‘Dunia Ning Arum’ namanya. Namun, karena saya tidak suka membaca, saya tidak bisa menulis banyak kata, akhirnya saya berhenti di dua cerita. Saya tidak pernah menulis lagi ketika itu. Bahkan saya sangat jarang membuka laptop, saya benar-benar tidak punya keinginan untuk menulis.

Kelas tujuh atau satu SMP, di sini saya menulis lagi, walau hanya dua cerita. Dan lagi-lagi berhenti di situ, saya tidak lagi menulis.

Menginjak tahun kedua di SMP, di tahun ini bisa dibilang tahun yang tak ingin saya ulang. Karena saya memiliki hari-hari yang kacau, menakutkan, tentu bagi saya, mungkin bagi orang lain masalah ini sepele bagi saya ini masalah besar. Saya tidak punya teman di rumah sejak itu, saya selalu mengurung diri di dalam kamar, dan saya tidak punya teman untuk cerita tentang masalah yang sedang saya hadapi. Saya benci hari-hari itu, karena saya sendiri.

Masalah itu membawa saya kenal dengan novel. Karena saya tidak memiliki teman, saya tidak tau harus apa, akhirnya saya pergi ke kamar Kakak, mengambil satu novel, yaitu ‘sabtu bersama bapak’. Novel itu membuat saya hanyut dalam cerita, membuat saya hilang dari dunia nyata. Saya bahagia sekali, karena bisa melupakan segala masalah walau hanya sejenak.

Ketika itu Kakak memberikan sata sebuah notebook yang ia dapatkan dari salah satu Bank. Di buku itu saya mulai menulis segala yang saya rasakan. Saya menangis, tertawa, takut, khawatir, di dalam buku itu. Yah, saya pikir saya mau hidup bahagia, saya ingin apa yang saya harapkan menjadi milik saya. Tapi, saya tau tidak semudah itu, jika bukan takdir tak mungkin saya milik. Itu sebabnya saya menulis, saya membuat dunia saya sendiri, saya berkhayal tentang apa yang bisa membuat saya bahagia. Saya bahagia dengan cara saya sendiri, saya bersembunyi di balik tulisan.

Saya jatuh cinta, tapi saya nggak bisa bilang ke dia. Saya nggak berani jujur di depan dia. Akhirnya saya mengubah dia ke dalam tokoh-tokoh cerita yang saya tulis di Wattpad. Hingga sekarang, saya menulis hanya untuk seseorang, Ibu, Ayah, dan diri saya sendiri. Karena saya akan bungkam jika tentang mereka. Saya kacau. Gila bukan jika saya bilang bahwa semua tulisan-tulisan itu hanya saya peruntukkan pada seseorang yang tidak peduli dengan hidup saya, dia.

Dulu, pertama saya menulis. Saya selalu menulis di notebook itu, ketika di sekolah, ketika saya bosan dengan keadaan, saya akan menulis. Lalu, salah satu teman saya akan membaca tulisan itu dan mengomentarinya. Bahagia sekali ketika teman saya memuji karya saya, karena rasanya beda. Saya selalu menghabiskan waktu senggang untuk menulis. Dulu, menulis adalah pekerjaan paling mudah yang bisa saya lakukan, perkerjaan yang saya pikir akan membuat orang tua saya bangga di kemudian hari, walau sampai sekarang mereka masih menentang. Separuh hidup saya terasa hidup di imajinasi, di dalam khayalan saya sendiri. Yah, karena di kamar mandi, mau tidur, perjalanan ke sekolah, setiap waktu saya selalu berkhayal. Itu semua hanya untuk menulis. Saya bisa menulis banyak hal jika saya sedang patah hati, sedih, kecewa, takut. Dalam keadaan yang pelik.

Menulis cara saya kabur dari masalah. Cara saya mengungkapkan perasaan apapun yang tidak bisa saya ucapkan pada orang lain. Dengan menulis saya tidak perlu khawatir saya akan menangis di depan orang, atau Ketika saya bercerita saya takut cerita saya menyebar. Menulis itu seperti obat untuk saya, menenangkan, juga suatu saat nanti jika saya kembali membaca tulisan saya, saya merasa hebat karena bisa bertahan.

Untuk apa saya menulis? Untuk membantu diri saya tumbuh, untuk membantu diri saya yang selalu kesulitan menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan ucapan, untuk menemani diri saya sepanjang hari, untuk membuat diri saya bangga di kemudian hari.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Hai, perkenalkan saya Wahyuning Arum. silakan e-mail ke wahyuarum0311@gmail.com untuk kerja sama

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

Categories

  • Cerita Kita 15
  • Cerpen 1
  • Lifestyle 2
  • Ratu 11
  • Rekomendasi 5
  • Review 6

Cari Blog Ini

Intellifluence Trusted Blogger

Arsip Blog

  • ►  2025 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2023 (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (2)
  • ▼  2022 (6)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ▼  Januari (4)
      • Ada Kegelisahan di Wajah Setiap Insan
      • Jogja Bersama dengan Kenangannya
      • Tentang Sepi dan Kosong yang Menjadi Momok di Sepa...
      • Alasan Mengapa Saya Suka Menulis
  • ►  2021 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (4)
  • ►  2020 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2019 (10)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2016 (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
Diberdayakan oleh Blogger.
  • Beranda

Popular Posts

  • Sarana bagi Para Penyandang Disabilitas dalam Pemilu 2024
  • Ratu | Bagian 1 | Pertemanan
  • Cerpen Anak-Anak: Kucing Nona Ami
  • Ratu | Bagian 2 | Risma

Labels

  • Lifestyle 2

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template