Dunia Ning Arum

Enjoy how my life and the lives of others

  • Home
  • About Me
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

           


            Aku menemukan mereka ketika sekolah menengah pertama. Bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, manusia-manusia yang selalu kesal ketika aku berkata ‘terimakasih’ katanya tak perlu ada kata terimakasih di antara aku dan mereka. Padahal, sejujurnya ada ribuan kata terimakasih yang selalu ingin kuucapkan.

Sejak kecil, aku tak begitu percaya dengan namanya teman, mereka akan selalu menyakitiku. Tapi aku menemukan mereka. Tiga manusia yang tak perlu tau apa masalahku, tapi selalu menghiburku dengan sifat asli yang luar biasa. Aku ingin menuliskan tentang tiga manusia ini, aku ingin dunia tau bahwa ada tiga manusia yang berarti bagi hidupku.

CekCulCikMu. Nama itu singkatan dari nama ejekan kami.

Pertama, Cik, Tachik, Lia. Manusia yang selalu membuatku marah karena dia terlalu lelet, selalu lama dalam memahami suatu hal hingga membuat aku kesal. Ia aneh, sangat aneh, Ibuku selalu menyebut dia anak ramai karena selalu berisik, suaranya selalu keras. Aku tak benar-benar dekat dengan dia pada awalnya, tapi hingga akhirnya kami dekat karena duduk di bangku yang sama, bersama Cul dan Mu.

Dia dulu selalu menceritakan tentang kisah cintanya. Mulai dari bagaimana dia menjalin sebuah hubungan dengan salah satu teman kelas kami, hingga bagaimana dia mendapatkan kenalan laki-laki yang tinggal di pondok ketika dia tanding silat. Tapi sekesal apapun aku kepadanya, dia satu-satunya manusia yang mempercayakan kejadian dalam hidupnya kepadaku. Dia orang pertama yang bisa membuatku sangat marah, sangat kesal dalam meladeni seseorang.

Pernah satu kali, dia datang ke rumahku ingin menceritakan tentang kisah cintanya yang tragis. Dia datang sendiri, aku menyambutnya dengan senang pada awalnya, hingga akhirnya aku merasa bosan. Aku bilang ingin tidur, dan mengharapkan dia pergi. Hingga sekarang aku merasa bersalah dengannya. Perlakuanku sangat tidak dewasa, sangat tidak mencerminkan seorang sahabat, sangat egois. Padahal dia juga orang pertama yang mau datang menemuiku untuk sekedar bercerita. Juga, dia orang pertama yang tau bahwa aku menyukai seseorang sejak kelas tujuh. Aku sering bercerita ke dia, hanya saja dia selalu lupa. Huh.

Kedua, Mu, Muneng, Listya. Gadis paling dewasa di antara kami berempat, gadis paling pemberani, gadis yang setiap tindakannya membuatku terkejut. Kali ini aku benar-benar tak dekat dengan dia, tapi setiap ada di dekatnya aku merasa tenang, aku merasa aman, itu sebabnya ketika kami pergi berempat aku tak pernah merasa khawatir tentang apapun.

Aku tidak suka bercerita ke dia, karena kami selalu memiliki pemikiran yang berbeda, kami selalu berdebat. Tapi aku suka itu. Juga, dia orang yang selalu bergerak paling depan ketika ada yang berulang tahun, dia selalu memulai inisiatifnya untuk merayakan ulang tahun itu. Bahkan ketika aku tidak punya uang, dia akan bilang bahwa aku bisa memakai uangnya terlebih dahulu. Di antara kami, dia seperti pelindung, seperti seorang Ibu itulah kenapa sekarang kami sering memanggilnya ‘Mami’.

Ada perbuatannya yang selalu aku ingat. Sekitar dua tahun yang lalu, ketika aku lulus SMP, dan harus memilih SMA. Orang tuaku tak setuju aku sekolah di tempat ini, orang tuaku takut aku tak bisa diterima di sekolah yang aku inginkan, tapi dia datang, meyakinkan Ibuku bahwa aku akan diterima di sekolah itu, dia orang yang membantuku. Dia benar-benar seperti keluargaku, serius, bahkan aku tak bisa menjelaskan bagaimana tindakannya selalu membuatku ingin berkata terimakasih.

Tahun ini, aku tidak merayakan ulang tahunnya dan Tachik, tapi ketika Icul dan aku ulangtahun, dia memberi kami kejutan, sekedar membawa donat dan berkata ‘surprise’ tindakannya selalu luar biasa.

Sekali lagi, aku bukan orang yang suka keluar rumah, alasannya karena aku tidak tenang, aku selalu khawatir tanpa alasan. Tapi, setiap aku keluar dengan dia, aku selalu tenang, seakan-akan Ibuku benar-benar ada di sisiku. Dia manusia yang paling di depan untuk menolak kata terimakasih dariku, dia juga orang yang selalu bilang, “Nggak usah nangis. Aku nggak suka lihat kamu nangis.”

Sebelum aku berpindah ke Cul. Aku ingin menjelaskan, bahwa aku dan Listya Lia beda sekolah. Iya, aku dan Cul satu sekolah, sedangkan Listya dan Lia sekolah di tempat lain karena mereka tidak diterima di sekolahku. Tapi kalian tau, apa yang selalu membuatku bahagia dengan kehadiran dua orang ini? Sejak kelas sepuluh, hampir setiap hari mereka datang ke rumahku, bercerita, membuatku benar-benar merasakan adanya seorang teman yang tak akan pernah meninggalkanku.

Dan yang terkahir, Cul, Icul, Asta. Dia gadis pertama yang membuatku merasakan yang namanya teman. Kami duduk di bangku yang sama selama tiga tahun, iya, tiga tahun sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah menengah pertama. Gadis yang ketika itu berebut kakak kelas denganku. Dulu aku memanggilnya Mbak Asta, sekarang aku memanggilnya Icul.

Dia tidak pernah bertanya apa yang terjadi dalam hidupku, bahkan aku tak pernah tau apa yang terjadi dalam hidupnya. Dia dan aku hanya saling bercerita tentang cinta, tentang siapa yang kami sukai. Dulu, dia selalu menyandarkan kepalanya di pundakku sambil bercerita. Dia orang yang selalu menghiburku dengan kelakuan anehnya. Satu-satunya orang yang tidak pernah membuatku tertekan akan suatu hal.

Dia gadis yang sangat ceria di depanku, gadis konyol, gadis yang tidak tau malu menurutku. Setiap pulang sekolah dulu dia selalu menari sambil bernyanyi di tengah lapangan, dia selalu menyebutku boboho. Dia menghiburku, dia menyelamatkanku dari trowongan yang gelap, dia selalu membuatku tersenyum.

Ketika kita SMA, setiap pulang sekolah kami selalu duduk di kantin, meminum fanta, menunggu parkiran sepi, lalu pulang dengan bibir yang sangat merah karena fanta itu. Aku tidak tau lagi bagaimana cara menceritakan kebaikan-kebaikan yang sudah ia berikan kepadaku. Tentu, aku pernah kesal karena aku takut dia memiliki teman baru dan melupakanku, dan akhirnya aku sadar, bukan dia yang melakukan itu, tapi aku sendiri.

CekCulCikMu. Kecek, Icul, Tacik, Muneng.

Kami bersahabat bukan karena kami mengetahui masalah kehidupan satu sama lain. Kami bersahabat karena kehadiran. Bagaimana mereka selalu hadir dalam kehidupanku, dan memberikan kebahagiaan yang terkadang kulupakan. Aku benar-benar merasa nyaman ketika tiga manusia itu bersamaku. Setiap tindakan mereka selalu membuatku tertegun, selalu membuatku berpikir, apa ini semua nyata? Apa aku benar-benar memiliki teman seperti mereka?

Waktu berjalan dengan begitu cepat, bukan? Aku masih ingat hari pertama bertemu Asta dan dia memperkenalkan dirinya sebagai ‘Ica’, aku masih ingat bagaimana Listya dan Lia berpindah tempat duduk hingga akhirnya satu kelompok denganku dan Asta, bahkan aku masih ingat bagaimana kami membuat satu angkatan menunggu karena kami tak kunjung kembali ke bus ketika berlibur ke Jogja. Aku ingat bagaimana Asta yang sedang berpacaran di hari minggu, aku ingat bagaimana Listya selalu marah-marah di kelas karena teman-temanku yang tak pernah mendengarkan ucapan ketua kelasnya, aku masih ingat bagaimana Lia yang ragu mengajakku untuk ke toilet. Aku selalu berkata bahwa masa-masa sekolah menengah pertamaku begitu membahagiakan, itu karena ada mereka, itu karena aku memiliki mereka.

Belakangan ini, lebih tepatnya ketika mereka pulang dari rumahku, setelah memberiku kejutan di ulang tahunku yang ke tujuh belas, aku selalu memikirkan bagaimana kami akan berpisah. Kami akan tumbuh, meraih mimpi masing-masing, kami akan berpisah, mungkin tak akan ada lagi Listya dan Lia yang selalu menelponku untuk bertanya aku mau menitip es apa, tidak akan ada lagi Asta yang memintaku untuk mengubah tugasnya menjadi bentuk pdf.

Aku menyayangi mereka sangat. Aku takut kehilangan mereka. Sekarang, kelulusan terlihat begitu menyeramkan di mataku. Aku menyukai persahabatan ini. Ada banyak kata terimakasih yang ingin kuucapkan pada mereka. Rasanya, kehadiran mereka di dunia, membantuku berjalan melawan apapun yang ada di depanku. 

Sejujurnya masih ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi aku tidak tau bagaimana cara menjelaskannya. Yang jelas kehadiran mereka adalah hadiah paling indah dari Tuhan. Setiap tawa mereka, perilaku mereka, adalah tontonan paling menyenangkan. Aku tak percaya bahwa hampir enam tahun kami berteman, hampir enam tahun aku memiliki seorang teman setelah bertahun-tahun di sekolah dasar aku selalu dijauhi.

Icul, Tachik, Mami, terimakasih untuk semuanya, untuk kehadiran, untuk senyum, untuk semua tindakan.







It's me, not someone else!
Semakin jauh. Itu yang dirasakan Ratu pada Raja. Sudah satu minggu gadis itu tidak bertemu Raja, bahkan laki-laki itu tak pernah membalas pesan atau mengangkat telpon Ratu. Hingga akhirnya gadis itu memilih untuk tidak mempedulikan Raja sejak dua hari yang lalu, dia muak dengan perilaku laki-laki itu.
Belakangan ini Pangeran selalu ada di samping Ratu, bukan karena laki-laki itu mulai menyukai Ratu atau apapun. Dia hanya kesepian, karena kedua orang tuanya sedang pergi ke Korea untuk melakukan pekerjaan. Itulah kenapa dia memilih ke rumah Ratu, walau bersama Ratu dia sering bertengkar. Mungkin biasanya dia akan pergi bersama Ksatria atau Raja. Namun, Ksatria sedang pergi ke rumah Neneknya. Sedangkan Raja, ya begitulah.
Ratu berjalan sendiri di gang-gang yang sebenarnya tak pernah dilewati oleh gadis itu. Dia hanya tau gang itu menuju kemana. Pangeran sedang ada latihan basket, itu sebabnya dia memilih untuk pergi sendiri. Ini masih Ratu, gadis yang tak mungkin naik taksi jika memiliki kesempatan untuk berjalan atau naik angkot.
Hari sudah semakin gelap. Ratu takut, tapi dia tidak mungkin berjalan kembali. Hingga akhirnya dia berhenti melangkah ketika melihat lima laki-laki dengan seragam SMA berjalan mendekat ke arahnya. Mereka sedang mabuk, karena jalan yang sempoyongan dan sebuah botol bir di tangan kirinya.
“Cantik nih,” kata laki-laki yang berada di sebelah paling kanan. Dia mencoba untuk menyentuh wajah Ratu. Namun, dengan cepat gadis itu mencegah. Ratu memegang erat pergelangan tangan, hingga laki-laki itu meringis kesakitan.
“Coba ngelawan yah, Mbak?” tanya laki-laki yang berada di tengah.
Ratu tak menjawab, dia melepas cengkramannya, dan berjalan melewati mereka. Dia berjalan dengan santai, tapi pikirannya masih was-was. Ratu berhenti ketika menyadari bahwa mereka masih saja mengikutinya, akhirnya kaki Ratu melayang mengenai wajah mereka satu-per-satu. Dia tidak peduli dengan rok yang sekarang sudah sobek di bagian samping.
“Kalian mau apa sih?!” bentak Ratu dengan kesal.
“Kita cuman mau lo,” jawab laki-laki yang di tengah tadi. “Tendangan lo lumayan juga,” lanjutnya sambil tersenyum miring.
“Iya lah, kalau tendangan gue nggak bagus. Bukan Ratu namanya,” kata gadis itu dengan sedikit sombong. “Eh, ngapain gue malah ngobrol sama lo,” lanjutnya lalu kembali berjalan.
Ratu berhenti ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya, ia sudah siap untuk menyerang. Namun, tiba-tiba sebuah pukulan membuat laki-laki itu pingsan. Ratu menoleh, mendapati Pangeran yang masih menggunakan baju basket dan tas ransel berwarna hitam. 
“Bangsat lo, gue bilang jangan kemana-mana, malah pergi,” makinya pada Ratu dengan nafas yang masih terenggal-enggal. 
Pangeran menoleh ke arah empat laki-laki yang masih menatapnya. “Apa lo? Bahwa nih temen lo. Mabuk nggak tau tempat, nggak tau waktu,” katanya sambil menendang pelan laki-laki yang tadi ia pukul. “Ayo,” katanya sambil menarik tangan Ratu untuk pergi.
***
Ksatria bersandar pada dinding luar kamar mandi perempuan. Dia menunggu seseorang keluar dari ruangan yang selalu berbau harum itu. Bahkan Ksatria sekarang sedang berpikir, bagaimana bisa bau kamar mandi menjadi bau toko parfum. Dia benar-benar tidak bisa berpikir apa yang sebenarnya diinginkan oleh perempuan yang selalu menyemprotkan parfum kapanpun dimanapun. 
Ksatria memang bukan laki-laki yang paham tentang perempuan, dia hanya paham tentang Ratu tidak dengan yang lainnya. Satu per satu gadis mulai keluar dari kamar mandi, masing-masing membawa tas kecil yang tentu saja berisi parfum atau make up.
Laki-laki itu mengerutkan kening ketika melihat teman sebayanya yang menggunakan make up sedikit lebih tebal. “Tuh anak mau sekolah atau mau jual diri sih,” gumamnya. 
“Lo ngapain di sini?” tanya gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Ksatria tersenyum melihat gadis itu. “Nungguin lo, Ris,” jawabnya.
“Mau ngapain?” tanya Risma.
“Mau ngomong lah,” katanya. “Ke taman belakang aja,” lanjutnya.
Risma menuruti ucapan Ksatria. Gadis itu mengikuti Ksatria dari belakang, pikirannya masih bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan oleh laki-laki di depannya itu. Lalu dia tersenyum kecil ketika menemukan jawabannya. 
Ratu, batin Risma sambil tersenyum.
“Ngomong apa?” tanya Risma ketika mereka sampai di taman yang sedang sepi.
“Berhenti ngelarang Raja ketemu Ratu,” jawabnya to the point, Ksatria bukan laki-laki yang suka basa-basi, dia malas untuk memperpanjang ucapan jika ada yang lebih pendek.
“Gue nggak pernah ngelarang Raja kok,” katanya dengan suara yang ia buat lembut.
Ksatria berdecak kesal. “Gue nggak tau kenapa lo bisa berubah kayak gini, atau emang sebenarnya lo dari dulu kayak gini. Tapi tolong banget, nggak usah bawa-bawa Raja. Kalau lo mau nge goblok, yah ngegoblok sendiri aja, jangan ngajak temen.”
“Kok lo ngomongnya kasar banget sama gue? Gue salah apa sama lo?”
“Maaf banget, mungkin ini emang kalimat paling kasar yang pernah gue ucapin ke lo sampai sekarang. Tapi, lo akan dapat yang lebih parah dari ini kalau lo nggak berhenti berulah,” ujar Ksatria dengan tegas. “Kita udah temenan dari kecil, dan gue pikir gue tau tentang lo, ternyata nggak. Lo nggak lebih dari hewan kukang, kelihatan imut dan polos tapi aslinya beracun,” lanjutnya.
Risma meneteskan air matanya. “Gue nggak tau salah gue apa. Gue tau gue emang pengganggu di persahabatan kalian. Oke, gue bakalan ngejauh,” ucapnya.
“Kenapa lo bakalan menjauh?” sahut Raja dari belakang.
“Raja,” rengek Risma lalu berjalan memeluk Raja.
“Ya elah, drama,” gumam Ksatria sambil menggaruk kepala belakangnya. 
“Lo apain dia?” tanya Raja dengan suara khas orang marah.
“Cuman nyuruh dia buat berhenti ngelarang lo ketemu Ratu,” jawab Ksatria yang masih tersenyum.
Raja melepaskan pelukan Risma. Dia melangkah lalu menarik kerah baru Ksatria, tangannya sudah melayang hendak memukul laki-laki itu. Namun, sebuah tangan mencegahnya. Tangan Ratu.
“Lo yakin mau mukul Ksatria?” tanya Ratu sambil melepas genggamannya pada Raja dengan perlahan.
“Udah, Ja. Jangan gini, nanti mereka tambah benci sama aku,” kata Risma memegang tangan Raja.
“Ini kita, Ja, bukan orang lain,” kata Ratu dengan suara pelannya. “Dan ini Ratu, bukan perempuan lain,” lanjutnya.
Ratu tidak menangis, dia hanya tersenyum getir melihat Raja. Sedangkan laki-laki itu tidak menatap Ratu sama sekali, dia hanya menatap ke arah lain. Dia tidak bisa menatap wajah sahabatnya itu, entah apa alasannya.
“Kalian udah keterlaluan,” ucap Raja tiba-tiba.
“Kita yang udah keterlaluan atau lo, bangsat,” Ratu sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia beralih menatap Risma. “Dan lo, berhenti ngedrama, ambil Raja kalau mau. Dasar uler! Ngelilit mulu, berbisa!” bentak Ratu dengan sangat kesal.
Hampir saja tangan Raja melayang memukul Ratu. Namun Ksatria menghentikannya. “Dia cewek,” kata Ksatria, lalu pergi sambil menarik tangan Ratu.
***
Ratu menangis di pelukan Ksatria, dia tidak benar-benar kuat. Ini menyakitkan untuk gadis itu. Raja, laki-laki yang selalu ada untuk ratu ketika Pangeran menyakiti, sekarang malah memperlakukan Ratu lebih menyakitkan dari yang dilakukan oleh Pangeran. Terlepas dari rasa cinta, Ratu sudah benar-benar kehilangan sahabatnya. Kehilangan sosok Raja yang dulu selalu ada untuknya, sosok Raja yang dulu bisa membuatnya jatuh cinta.
Ksatria dari tadi tidak berbicara apapun, dia membiarkan Ratu memeluk tubuhnya. Walaupun pikiran laki-laki itu kacau, bukan karena Raja. Melainkan, karena pacarnya tadi melihatnya memeluk Ratu. Ksatria termasuk laki-laki peka, dia sudah tau bahwa pacarnya sedang cemburu, walau tadi dia melihat gadis itu tersenyum ke arahnya.
“Udah, Ra,” katanya sambil menepuk pelan punggung Ratu. “Semua orang akan berubah seiring berjalannya waktu, lo nggak bisa memaksa atau berharap orang itu sama seperti dulu. Raja, dia juga manusia yang sifatnya bisa berubah. Dan lo, harus bisa menerimanya.”
“Raja mau nampar Ratu, Ksatria.”
“Itu namanya emosi, nggak semua orang bisa naham emosi mereka. Kayak lo sekarang, lo nggak bisa nahan emosi, jadi nangis terus.”
Ratu melepas pelukannya, menyekah air mata yang membasahi wajahnya. “Ratu mau pulang yah,” katanya.
Ksatria mengangguk. “Mobil gue ada di belakang sekolah,” katanya sambil menyerahkan kunci mobil miliknya. “Hati-hati, lo tau jam segini Tante Serly sering keliling cari mangsa.”
Gadis itu mengangguk. Ia melangkah berjalan mengambil tas, dan pergi menuju belakang sekolah. Benar, seperti kata Ksatria tadi, sekarang seorang perempuan sedang berjalan dengan penggaris kayu di tangannya, matanya menyoroti setiap lorong-lorong sepi sekolah, tangannya juga membuka satu per satu ruangan kosong yang sering digunakan untuk persembunyian para siswa yang tak ingin ikut pelajaran.
Sedangkan Ratu hanya duduk tenang di tempat persembunyian biasanya. Gudang yang tidak pernah dibuka lagi, karena kuncinya hilang, padahal diambil oleh Ratu. Dan anehnya, pihak sekolah tidak mengganti kunci tersebut, mereka pikir barang-barang di dalam gudang sudah tak lagi diperlukan. Tentu ini mempermudah Ratu, dengan leluasa dia bisa bolos pelajaran tanpa ketahuan. Gadis itu juga tak pernah bisa menghilangkan kunci itu, dia selalu ingat dimana kunci itu ia letakkan. 
Setelah dia melihat Serly pergi, dia mulai keluar, dan mengunci kembali pintu gudang itu. Berjalan dengan cepat. Dengan sigap dia menaiki kursi dan melompat melewati tembok belakang sekolah. Sejak di sekolah menengah pertama Pangeran selalu mengajarkan untuk lompat pagar, lompat tembok yang tinggi tanpa pergi susah payah. Sebenarnya selalu susah, namun karena dia sudah terbiasa, sekarang melompat tembok adalah hal yang mudah untuk dilakukan.


 Seharusnya aku memilih dia, seharusnya aku mencintai dia, bukan laki-laki itu yang selalu mengacuhkanku.
Dia yang selalu ada
Sudah lima belas menit Ratu menunggu teman-temannya di depan kelas. Biasanya laki-laki itu selalu tepat waktu, bahkan sepuluh menit sebelum bel pulang pun mereka sudah ada di depan kelas Ratu untuk menjemputnya. Namun, sekarang tidak. Ini pertama kalinya. Mereka juga tidak memberi kabar apapun pada gadis itu. Ketika di telpon pun tidak ada yang menjawab.
“Ayo pulang.”
Ratu tersenyum dan menoleh. Ia pikir itu adalah teman-temannya, ternyata bukan. Seseorang yang mengajaknya pulang adalah Dikta. Tentu, sedikit kecewa yang dirasakan Ratu.
“Kok kamu yang datang?” tanya Ratu, dia masih melihat-lihat, masih berharap ketiga temannya yang datang.
“Mereka nggak bilang ke lo?”
Aku menggeleng.
“Raja, Ksatria, sama Pangeran kan lagi nganterin Risma. Tadi siang, dia pingsan. Yah, katanya sih gitu, makanya gue disuruh jemput lo,” jelas Dikta. 
Lagi-lagi kecewa. Sekarang gadis itu benar-benar merasa bahwa dia sudah terlupakan. Sahabatnya sudah meninggalkan dia demi teman yang lain. Tentu, dia juga semakin benci dengan Risma, baginya Gadis itu tetap merusak pertemanan. Dulu Ratu takut ketiga temannya akan pergi meninggalkannya dengan Risma, dan sekarang ketakutan itu terjadi. Semua yang ditakuti oleh Ratu perlahan menjadi nyata.
“Ra, lo nggak apa-apa?” tanya Dikta yang melihat wajah Ratu mendadak berubah. “Mau pulang atau ke Risma?”
“Pulanglah, ngapain ke cewek itu,” jawab Ratu lalu melangkah mendahului Dikta.
Dikta tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia berjalan menyamai langkah Ratu. “Lo cemburu ya?” 
“Ngapain cemburu.”
“Nggak usah cemburu. Kan masih ada gue,” ucap Dikta lalu merangkul pundak Ratu.
Sejujurnya Ratu sedikit risih dengan perilaku Dikta, karena ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang merangkul Ratu, selain ketiga temannya. Ratu senang, tapi tidak begitu senang. Ada yang mengganggu perasaannya, ketakutan, kekhawatiran.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengangkat tangan Dikta dari pundak Ratu.
“Eits, gue nyuruh lo jemput Ratu. Bukan ngerangkul,” kata Pangeran yang tiba-tiba ada di belakang mereka sambil membawa empat tas.
Ratu dan Dikta menoleh.
“Kok lo di sini?” tanya Ratu, pandangannya beralih pada tas-tas yang sedang dibawa Pangeran. “Mau balik ke Risma, yah?”
Pangeran mengangguk. “Iya. Jadi lo pulang sama Dikta ya,” kata Pangeran. “Jangan diapa-apain,” lanjutnya beralih pada Dikta.
“I-” belum selesai Dikta menjawab Pangeran. Ratu segera menyeret laki-laki itu karena kesal.
Pangeran mengerutkan kening, lalu berlari mendekat. “Jangan marah, Ra,” katanya menenangkan Ratu.
Tak ada jawaban dari gadis itu. Ia masih saja berjalan dengan muka yang ditekuk, tak peduli dengan Pangeran atau Dikta. 
***
Ratu diam di kamarnya. Merutuki nasib bahwa sekarang dia di tinggal sendiri, teman-temannya masih di rumah sakit untuk menjaga Risma. Dan sekarang perut Ratu sedang bunyi, ia belum makan sejak pulang sekolah, karena malas. 
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, menampakkan Pangeran yang sedang tersenyum. Laki-laki itu masuk kamar Ratu, membawa nampan yang berisi nasi goreng dan segelas jus mangga. 
“Nih, makan,” katanya sambil meletakkan nampan itu di meja dekat kasur Ratu.
Gadis itu tak menjawab, ia pura-pura tidur. Dia masih kesal dengan Pangeran yang tidak mempedulikannya. Ah, bukan hanya pada Pangeran, tapi juga pada Raja dan Ksatria.
Pangeran berjalan mendekat ke Ratu, mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. “Bangun!” teriak Pangeran yang membuat Ratu terkejut.
“Pangeran!” bentak Ratu lalu melemparkan segala macam barang yang di dekatnya pada Pangeran. Hingga akhirnya, sebuah boneka panda berwarna coklat menyentuh air putih yang tadi di bawah Pangeran, jus itu tumpah membuat nasi goreng menjadi tak karuan.
“Ups, maaf,” kata Ratu yang masih tertegun.
Pangeran terdiam sejenak, memandang nasi goreng yang sudah ia buat dengan susah payah itu. Namun, sekarang sudah tidak bisa dimakan. Akhirnya dia mengambil nampan itu dan pergi meninggalkan kamar Ratu dengan kesal. 
“Pangeran,” panggil Ratu sambil mengikuti Pangeran dari belakang. “Maaf,” katanya, namun tak ada jawaban dari Pangeran.
Ratu menghela nafasnya, ia memikirkan suatu tindakan yang mungkin akan membuat Pangeran mau memaafkannya. Ia melangkah mengambil nasi goreng tersebut dari tangan Pangeran, lalu menyuapkan satu sendok ke mulutnya. Walaupun rasanya tidak enak, Ratu masih tetap mengunyah nasi goreng tersebut.
“Gila lo yah,” kata Pangeran ketika melihat tindakan Ratu. 
Pangeran mengambil kembali nasi goreng itu, lalu membuangnya ke tempat sampah. Dia melangkah mengambil satu gelas air putih untuk Ratu.
“Minum,” katanya. “Kalau lo sakit gimana,” lanjutnya berkata dengan nada khawatir.
“Maaf. Gue kan cuman nggak mau lo marah.”
“Gue bakalan lebih marah kalau lo bertindak kayak gini,” ucap Pangeran. “Jangan kayak gini lagi. Emang enak apa nasi goreng dicampur sama jus mangga,” lanjutnya sambil mengelus rambut Ratu dengan pelan.
***
Gadis dengan piyama berwarna hitam itu mulai membuka mata ketika matanya terpapar cahaya matahari. Ia merenggangkan tubuh, melirik jarum jam yang menunjukkan pukul delapan. Ada senyum di bibirnya ketika menyadari bahwa hari ini adalah hari sabtu, waktunya untuk kembali tidur, menikmati liburan di dalam kamar.
Sebelum dia menidurkan tubuhnya lagi. Ia menyadari sesuatu, ada seseorang yang sedang tertidur di sofa kamarnya. Dia melangkah mendekat, membuka selimut tebal berwarna biru itu. Memperlihatkan sosok Pangeran yang sedang tertidur pulas, kedua tangannya mengepal seperti bayi, itu kebiasaan Pangeran ketika tidur.
Kemarin malam Pangeran datang ke rumah Ratu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Wajahnya penuh lebam, gadis itu tidak tahu bagaimana sahabatnya ini terluka, karena Pangeran tidak mau cerita. Dia hanya menyuruh Ratu untuk membersihkan lukanya, dan meminta izin untuk tidur di rumah Ratu. Dia memilih tidur di kamar Ratu, karena jika tidur di tempat lain dan pembantu Ratu tau bahwa wajahnya lebam, mereka akan mengadu pada Niko, tentu saja Pangeran tidak ingin mereka tau.
Tangan Ratu bergerak mengusap pelan kepala Pangeran. Ia tersenyum menatap laki-laki itu. Menatap wajah Pangeran.
“Naksir gue baru tau rasa lo,” tiba-tiba Pangeran bersuara, diikuti oleh matanya yang mulai terbuka.
Mata mereka bertemu. Tidak, ratu tidak mengalihkan pandangan. Dia masih saja menatap Pangeran, masih dengan senyumnya juga. 
“Apa?” tanya Pangeran yang masih bingung dengan tindakan Ratu. “Ra, ini deket banget loh. Kalau tau Pembantu atau Om Firza bisa bahaya,” lanjutnya was-was.
Sejujurnya jantung laki-laki itu sedang berdegup tak karuan. Bagaimana tidak, Pangeran masih tetap lelaki normal. Tidak mungkin dia tahan ketika bangun tidur tiba-tiba ada perempuan yang sedang memandangnya sambil tersenyum.
Ratu menjauhkan wajahnya, lalu duduk di lantai. “Cuman lo yang ada sekarang. Raja sama Ksatria pergi,” katanya sambil menunjukkan wajah kecewa.
Pangeran bangun dari tidurnya, duduk menghadap Ratu, memegang kepala gadis itu dengan kedua tangan. “Raja harus jaga Risma, dan Ksatria, dia pergi ke Bogor karena ada acara. Gue yang paling nganggur di sini.”
“Oh, jadi lo mau ke rumah gue cuman karena nganggur?” Ratu memukul pelan lengan Ratu. “Sekarang, kenapa muka jelek lo jadi tambah jelek gini?” Ratu memegang luka Pangeran yang belum kering itu dengan pelan.
“Berantem sama Dodit,” jawabnya sambil menyingkirkan tangan Ratu dari wajahnya.
“Kenapa?”
“Ada sesuatu.”
“Iya, apa?”
Pangeran beranjak dari duduknya. “Gue mandi dulu,” ucapnya yang tentu saja ingin mengakhiri perbincangan itu.
“Pangeran kenapa?!” bentak Ratu.
Pangeran menghela nafas, berbalik dan berkata, “Dia bilang lo cewek murahan.” Pangeran mengelus pelan kepala Ratu. “Padahal lo cewek paling mahal yang gue kenal. beuh, saking mahalnya, sampai nggak bisa beli pakai uang,” lanjutnya lalu tersenyum.
***
Pangeran duduk di depan ruangan VIP-3, ruangan tempat Risma dirawat. Dia memutuskan untuk datang menjemput Raja, karena laki-laki itu sejak kemarin tidak pulang. Dan dia juga memutuskan untuk menunggu Raja di luar, ia tidak ingin bertemu Risma untuk sesaat.
Raja keluar dari ruangan itu, masih dengan kaos hitam dan celana pramuka, berarti laki-laki ini benar-benar tidak pulang.
“Apa?” tanyanya.
Pangeran menoleh. “Pulang dulu gih, mandi, ganti baju, dan temui Ratu,” kata Pangeran.
Raja menggeleng. “Risma nggak mau ditinggal,” jawabnya singkat.
“Pulang bentar lah. Lo juga butuh istirahat, Ja. Lagian di sini ada yang jaga.”
Raja menggeleng sebagai jawaban.
“Temui Ratu bentar lah. Masa nggak bisa sih,” kata Pangeran yang masih saja berusaha membujuk Raja.
Tujuan awal Pangeran datang sebenarnya hanya untuk menyuruh Raja pulang. Namun, tiba-tiba Ratu menelpon, dia ingin Pangeran menyuruh Raja pulang, karena gadis itu tidak ingin Ratu menyaksikan Raja yang sakit hanya karena seorang perempuan yang bagi ratu merebut segalanya. Apalagi Raja tidak mengangkat telpon Ratu, itu membuat gadis itu cemas.
“Jaga dia sebentar,” kata Raja.
“Yah, lo temui dia sebentar, atau angkat telponnya.”
“Kalau lo ke sini cuman buat bahas ini. Mending lo pulang,” kata Raja sambil menepuk pundak Pangeran.
“Apa susahnya sih angkat telpon dia? Risma ngelarang lo? Kenapa, dia cemburu sama lo? Kalau dia suka sama lo kenapa dia nolak lo dulu.” Amarah Pangeran sudah benar-benar di puncak. “Yang minta ketemu sama lo Ratu, bukan cewek lain. Dia Ratu! Cewek yang lo bilang paling lo sayang, tapi berubah waktu Risma datang.”
Rahang Raja mengeras, kedua tangannya sudah mengepal. “ Wajah lo udah lebam, jangan buat gue nambah lebam itu,” katanya lalu menghilang dibalik pintu.
Pangeran mengepalkan tangannya, ingin sekali dia menonjok wajah tak bersalah Raja. Tapi dia harus menahan itu semuanya, dia tidak ingin persahabatannya hancur hanya karena hal sepele. Kata sahabat yang buat Pangeran harus mengubur segala perasaannya, perasaan apapun. Laki-laki ini hanya terlalu mencintai sahabatnya, dia hanya tidak ingin melihat sahabatnya terluka. Hanya itu. 



Kembali
Aku mengikhlaskanmu dengan segala rasa lara. Aku melepaskanmu sebelum menggenggam. Aku berhenti untuk bertahan. Aku pergi untuk kembali. Terimakasih atas segala bahagia tanpa disengaja. Terimakasih atas segala lara tanpa teruntuk. Aku mencintaimu, Ja.
Ratu menutup buku diary miliknya. Buku diary yang didapatkan dari Raja ketika ulang tahunnya yang ke dua belas. Hadiah yang ketika itu diberikan Raja karena ia tahu Ratu sedang butuh tempat untuk mengungkapkan perasaannya, namun terlalu malu untuk berkata pada temannya. Itu memang hadiah biasa, buku diary berwarna biru bergambar snow white yang memiliki gembok kecil beserta kuncinya. Ratu jarang mengisi buku itu, tapi Ratu menyayangi buku itu, seperti ia menyayangi orang yang memberikan. 
Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya, mengambil sebuah foto yang berada di atas meja belajarnya. Foto masa kecil Ratu bersama ketika temannya, Ratu sangat ingat, foto itu diambil ketika umur mereka lima tahun, ketika ulang tahun Pangeran. Lalu ia membuka laci mejanya, mengambil foto yang dipotret ketika kelas satu SMP, di foto itu bukan lagi Ratu dan ketiga temannya, melainkan Ratu dan keempat temannya, Risma. 
“Maafin gue, Ris. Seharusnya gue nggak benci lo, tapi gue iri sama lo. Maaf gue egois. Tapi gue nggak pernah suka ngeliat Pangeran dan Raja yang pergi dari gue karena mereka pilih lo,” gumamnya.
Tak sadar air mata gadis itu mulai menetes. Dulu Ratu sangat bahagia dengan kedatangan Risma, karena dengan itu dia bukanlah perempuan sendiri. Namun, satu tahun berjalan, ia mulai tak suka dengan kehadiran Risma. Karena ketika gadis itu hadir, Raja dan Pangeran tak pernah peduli dengannya. 
Bahkan pernah Ratu dan Risma pingsan secara bersamaan karena mereka meminum minuman yang sudah kadaluarsa, Raja dan Pangeran lebih memilih untuk mengantar Risma ke rumah sakit, dan membiarkan Ratu di rawat di sekolah. Sejak saat itu pula, Ratu mulai membiasakan diri untuk tidak peduli dengan segala hal yang dilakukan Pangeran dan Raja.
Ratu hanya memiliki Ksatria ketika itu, tapi tetap Ksatria bukan laki-laki yang memiliki banyak waktu. Ia harus membantu sang ibu pergi ke pasar, mengantarkan sang adik ke sekolah, menjadi guru untuk adiknya, dan mencari daun. Tapi Ksatria masih menyempatkan waktu untuk ke rumah Ratu, hanya untuk meminta minum, mendengarkan keluh kesah Ratu, atau menjahili Firza yang sedang bekerja. 
***
“Ra, bangun. Lo nggak sekolah?” Pangeran-dengan seragam lengkapnya, siap untuk berangkat sekolah- sedang membangunkan Ratu yang masih berada di alam mimpi.
Perlahan Ratu membuka matanya. “Masih pagi,” gumamnya untuk menjawab.
Pangeran mengarahkan pandangannya pada benda berbentuk hati di atas meja Ratu. Benda yang menunjukkan angka enam dan empat. "Pagi pala lo. Udah jam enam lebih," kata Pangeran. "Cepet bangun! Ksatria nggak sekolah, Raja ngebucin, masa elo nggak sekolah juga."
"Kepala gue pusing, Ran."
Pangeran memegang kepala Ratu, mengecek keadaan gadis itu, karena wajahnya terlihat begitu pucat. Badan Ratu panas, itu yang dirasakan Pangeran ketika menyentuhnya. Laki-laki itu menyandarkan badan pada lemari Ratu. “Nggak usah sekolah, deh,” ucapnya.
“Kenapa?”
“Lagi gak mood,” jawab Pangeran. Ia beranjak mendekat ke meja, ketika melihat buku diary milik Ratu. “Masih sering nulis di sini?”
Gadis itu bangun dari tidurnya, menggelengkan kepala untuk menjawab. 
“Nangis kan lo kemarin malam?” tebak Pangeran sambil menunjukkan wajah yang menggoda.
“Nggak, sok tau lo,” jawab Ratu dengan kesal.
Laki-laki itu mendekat ke Ratu, lalu memukul kepala gadis itu pelan menggunakan buku. “Nggak ada yang lebih kenal lo daripada gue,” ucapnya.
“Oh ya? Tapi maaf yah, kali ini tebakan Anda salah.” Ratu kembali tidur, menyelimuti tubuhnya dengan selimut. “Keluar sana, gue mau tidur lagi. Bilang ke Ayah juga kalau gue nggak sekolah,” lanjutnya.
Pangeran melonggarkan dasinya, membuka satu kancing baju bagian atas, lalu melangkah keluar dari kamar Ratu. Bukan hanya Ratu, bahkan kemarin malam Pangeran tidak bisa tidur hanya karena memikirkan dampak-dampak yang akan terjadi jika Raja tahu bahwa sahabatnya menyukai gadis yang disukainya. Pangeran tak suka memiliki rahasia dengan sahabat, tapi dia juga tidak ingin kehilangan sahabat. 
Pangeran membuka pintu kulkas dua pintu itu, mengambil botol kaleng minuman soda, dan segera menikmatinya. Ia mengelilingkan pandangan mencari keberadaan Firza atau Salma, tapi rumah ini terlihat kosong. 
“Om Firza!” teriak Pangeran, berharap seseorang akan menjawab.
“Apa?” suara Firza terdengar sedang berteriak untuk menjawab.
“Lagi di mana? Pangeran sama Ratu nggak sekolah!” 
“Iya, udah gue izinin!” jawab Firza. 
“Oke, terimakasih!” 
***
Raja duduk di tepi lapangan basket, menyekah air keringat yang sudah menetes dari wajahnya. Bel istirahat sudah berbunyi sejak dua puluh menit yang lalu, namun bukan mengganti pakaian dari kaos biru menjadi seragam, ia malah duduk-duduk sambil memperhatikan temannya yang masih bermain basket.
Raja tertawa karena melihat salah satu temannya yang jatuh karena tersandung kakinya sendiri. Semua orang tau, tawa Raja adalah pemandangan langkah yang selalu dinantikan oleh kaum hawa di sekolah ini. Tawanya terdengar sangat renyah, dan begitu manis jika dilihat. Mungkin itu juga yang membuat Ratu selalu merindukan tawa Raja.
"Ja, Pangeran nggak sekolah?" tanya Reno, kakak kelas yang selalu mengganggu Raja, Pangeran, dan Ksatria hanya agar diberi restu untuk memacari Ratu.
"Nggak tau," jawabnya lalu pergi meninggalkan Reno.
Raja benci seperti ini, benci ketika teman-temannya tidak masuk sekolah. Laki-laki itu merasa sendiri karena memang tak ada yang mengerti Raja selain ketiga temannya, bahkan Risma. Kadang perempuan itu juga menekan Raja agar berubah menjadi laki-laki manis. 
***
“Ra, turun!” teriak Pangeran.
Sejak pagi tadi, laki-laki itu tak pulang, dia menetap di rumah ini. Ketika Pangeran hendak pergi, ia malah di suruh Firza untuk membantunya membersih kan kebun. Itu sebabnya sejak tadi pagi ia tak pulang. Terlebih lagi Ratu sedang sakit, sulit untuk Pangeran pergi begitu saja tanpa melihat keadaan Ratu.
Ratu menuruni tangga, berjalan menuju Pangeran dan Raja yang sedang duduk di ruang tamu. Ia berjalan dengan lesu, badannya lemas. Sejak pagi gadis itu juga tak ingin makan, sudah dipaksa Pangeran, Salma, dan Firza berkali-kali. Namun, tetap saja dia tak ingin makan.
Ratu duduk di samping Raja, lalu menyandarkan kepalanya pada pundak laki-laki itu. “Dingin, Ja,” katanya dengan suara yang lesu.
“Suruh makan tuh anak. Siapa tau kalau sama lo nurut,” kata Pangeran.
“Makan ya,” kata Raja. “Ran,” panggil Raja mengisyaratkan agar Pangeran mengambil perlengkapan makan.
Pangeran kembali sambil membawa bubur yang sudah dituang ke mangkuk, dan segelas air putih.
Awalnya gadis itu menggelengkan kepala, tidak ingin makan. Namun, ketika Raja menatapnya dengan tatapan tajam seakan-akan ingin marah, akhirnya Ratu mengangguk mau memakan bubur itu.
“Dari tadi gue teriak-teriak nyuruh lo makan nggak mau, giliran Raja yang nyuruh mau. Dasar pilih kasih lo,” kata Pangeran dengan kesal lalu berjalan meninggalkan Raja dan Ratu.
“Ja, kenapa kesini? Nggak ke Risma?” tanya Ratu ketika mulutnya masih penuh dengan bubur.
Raja menggelengkan kepala untuk jawaban. 
“Ja, Ratu sakit karena Ratu takut.”
“Takut apa?”
“Ratu takut Ratu sendirian. Raja sama Risma, Pangeran dan Ksatria sama pacarnya. Ratu sendiri, Ratu nggak mau. Ratu nggak punya teman,” ucap Ratu, matanya sudah berlinang, gadis ini sudah ingin menangis.
Raja meletakkan mangkuk berisi bubur itu di atas meja. Lalu menarik Ratu ke dalam pelukannya, ia tak berkata apapun, yang dia lakukan hanya membelai rambut Ratu dengan pelan, membiarkan gadis itu membasahi pundaknya. Raja tidak sejahat itu pada Ratu, bahkan dia memang tidak bisa jahat. Laki-laki itu hanya tidak tahu apa yang sedang dia rasakan, dia tidak tahu tentang dirinya sendiri, itu sebabnya dia sering keliru dalam bertindak.
“Nangis lagi,” kata Pangeran yang datang sambil membawa secangkir coklat panas. “Nggak capek apa tuh anak nangis mulu,” lanjutnya, lalu duduk di sofa sambil menonton televisi. 
“Pangeran diem,” ucap Ratu yang masih terisak dan masih berada dalam pelukan Raja. 
“Gue kan cuman nanya. Lo nggak capek nangis?”
Ratu mengangkat tubuhnya keluar dari pelukan Raja. “Pangeran itu nggak tau apa yang Ratu rasain. Pangeran nggak tau gimana rasanya ditinggal sendiri,” ucap Ratu sambil menyeka air matanya.
“Bahkan gue lebih paham artinya kesepian daripada lo,” jawab Pangeran sambil menyunggingkan senyum. “Dunia rasanya hampa. Apa yang lo suka jadi nggak lo suka. Semuanya jadi aneh. Ngerasa nggak ada orang yang sayang sama lo. Itu kan yang lo rasa?”
Ratu diam tidak menjawab, karena semua yang sudah dikatakan oleh Pangeran memang benar. Sebanyak apapun teman Ratu, seramai apapun tempat yang ditinggali oleh Ratu, gadis itu tetap merasa sendiri. 
“Nggak ada yang ninggalin Ratu,” kata Raja secara tiba-tiba.
“Ada. Nanti Raja pergi buat nemuin Risma, ninggalin Ratu sendiri. Nanti Pangeran dan Ksatria pergi buat nemuin pacar mereka. Semuanya pergi. Bahkan Orang tua Ratu pun pergi ninggalin Ratu demi pekerjaan.”
Pangeran beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Ratu. Laki-laki itu memberikan sebuah surat yang ia ambil dari saku celananya. “Berhenti peduli sama omongan orang lain, omongan mereka nggak akan membuat masa depan lo cerah, yang ada malah suram. Balik jadi Ratu yang dulu, yang nggak pernah peduli sama omongan orang lain. Ratu yang selalu bilang bodo amat ke orang lain.”
“Ra, we will stay here. Don’t cry, your tears hurt me,” ucap Raja dengan tatapan matanya yang tenang.
“Tuh dengerin. Bertahun-tahun kita berusaha buat lo bahagia, masa lo nangis cuman karena omongan orang yang nggak penting buat hidup lo. Rugi dong kita,” ucap Pangeran. 
Laki-laki itu berdecak pinggang sambil menggelengkan kepala, melihat sahabat tersayangnya yang selalu menangis hanya karena ucapan orang lain. Tentu Pangeran terluka karena ini, dia sebenarnya sudah sangat marah, tapi lagi-lagi Ksatria menahannya. Ksatria tidak ingin Pangeran membuat ulah karena tidak bisa menjaga emosi.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Hai, perkenalkan saya Wahyuning Arum. silakan e-mail ke wahyuarum0311@gmail.com untuk kerja sama

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

Categories

  • Cerita Kita 15
  • Cerpen 1
  • Lifestyle 2
  • Ratu 11
  • Rekomendasi 5
  • Review 6

Cari Blog Ini

Intellifluence Trusted Blogger

Arsip Blog

  • ►  2025 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2023 (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (10)
    • ►  Juni (2)
  • ►  2022 (6)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2021 (5)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (4)
  • ▼  2020 (10)
    • ▼  November (1)
      • Tiga Manusia; Empat bersama; Bersahabat
    • ►  Maret (2)
      • Ratu | Bagian 11 | It's me, not someone else!
      • Ratu | Bagian 10 | Dia yang selalu ada
    • ►  Februari (1)
      • Ratu | Bagian 9 | Kembali
    • ►  Januari (6)
  • ►  2019 (10)
    • ►  Desember (2)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2016 (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
Diberdayakan oleh Blogger.
  • Beranda

Popular Posts

  • Sarana bagi Para Penyandang Disabilitas dalam Pemilu 2024
  • Ratu | Bagian 1 | Pertemanan
  • Cerpen Anak-Anak: Kucing Nona Ami
  • Ratu | Bagian 2 | Risma

Labels

  • Lifestyle 2

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template